Rupiah sang SAMPAH … 251210

Redenominasi Tolong Rupiah dari Kategori ‘Sampah’
Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
Ekonomi – Jumat, 24 Desember 2010 | 11:48 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kebijakan redenominasi bisa menyelamatkan rupiah dari kategori mata uang ‘sampah’ dunia.

Hal tersebut dilontarkan Pengamat Valas Farial Anwar di Jakarta, kemarin. “Makanya saya setuju dengan rencana kebijakan redenominasi,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dipaparkannya, untuk tahun ini mata uang Indonesia menduduki posisi keempat dari 10 negara dengan mata uang kategori ‘sampah’ secara internasional.

Masuknya rupiah dalam kategori tersebut sehubungan dengan nominal yang dimilikinya cukup besar dibanding mata uang dunia lainnya.

Adapun 10 negara dengan kategori mata uang ‘sampah’ secara berurutan adalah Vietnam, Sao Tome (Afrika), Iran, Indonesia, Laos, Guinea, Paraguay, Turkmenistan, Somalia, dan Zimbabwe.

Posisi Indonesia mengalami pergeseran dibanding November 2008 yang berada pada urutan keenam. Pasalnya, ada tiga negara yang telah menggunakan mata uang baru sehingga posisi mereka tergeser ke bawah.

“Untuk Zimbabwe, Somalia dan Turkmenistan, mereka sudah menggunakan mata uang baru sehingga lebih baik,” ujarnya.Selain dikarenakan nominal yang cukup besar, juga dikarenakan fluktuatifnya nilai tukar rupiah terhadap dolar sehingga menjadi sangat volatile.

Namun, lanjut Farial, tentunya pelaksanaan redenominasi itu tak bisa terlaksana dalam waktu dekat. Pasalnya, perlu adanya masa transisi yang tentu membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Karena ada proses peralihan, jadi ada dua harga yang digunakan bersamaan. Nah, ini kan rakyat kan nanti masih diberikan pilihan apakah mau menggunakan mata uang lama atau mata uang baru, ini kan butuh proses tahunan, jadi jangan dikasih target setahun harus selesai,” ujarnya.

Ia pun menilai, kebijakan redenominasi tersebut bisa memiliki dampak positif sekaligus negatif. “Positifnya kan APBN kita penghitungannya jadi lebih mudah, pengelolaan pengendalian moneter menjadi lebih mudah karena tidak dihitung triliunan, dan perhitungan perdagangan tentu akan lebih mudah.”

“Tapi negatifnya tentu penduduk Indonesia kan ada menengah atas dan bawah, mungkin akan ada pada tekanan inflasinya pada saat 1-2 tahun diterapkan,” pungkasnya.Sayangnya, ia tak memaparkan seberapa besar dampak inflasi itu.

Kenapa Rupiah Sering Guncang?
Lalu lintas valuta asing harus secepatnya dikendalikan untuk mengamankan nilai tukar.
Kamis, 23 Desember 2010, 16:29 WIB
Hadi Suprapto, Agus Dwi Darmawan

VIVAnews – Pengamat valuta asing, Farial Anwar, meminta pemerintah dan Bank Indonesia (BI) segera merevisi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1999 yang mengatur tentang lalu lintas devisa dan sistem nilai tukar. Menurut Farial, keberadaan undang-undang ini membuat spekulan bisa mempermainkan rupiah.

Farial mencontohkan bagaimana saat krisis 2008, nilai tukar rupiah begitu lebih mudah diguncang dibandingkan mata uang Malaysia atau Thailand.

“Coba lihat Thailand yang krisis politik Kaos Merah kemarin, nilai tukar baht tidak bergeser signifikan meski kejadian berhari-hari,” kata Farial di Jakarta, Kamis 23 Desember 2010. Demikian pula dengan Malaysia, krisis tidak terlalu banyak mempengaruhi nilai tukar ringgit.

Namun, saat membandingkan dengan Indonesia, Farial berkeluh kesah. Saat krisis 2008/2009, nilai tukar rupiah sangat fluktuatif, karena dibiarkan mengambang bebas. “Masih teringat pemodal asing menarik dananya, rupiah terjun ke angka Rp12 ribu per dolar AS,” kata dia.

Ini semua terjadi karena Indonesia menganut sistem rezim devisa bebas, sistem nilai tukar yang mengambang bebas. Pasarnya tidak likuid.

Menurut Farial, ini penyebabnya adalah keberadaan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1999, yang membebaskan investor asing ‘memarkir’ modal di mana saja. Bahkan termasuk ke surat utang negara (SUN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Akibatnya, ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS sangat besar. Indonesia juga tercatat memiliki cadangan devisa kecil bila dibandingkan dengan Malaysia yang sudah di atas US$100 miliar.

“Itu semua karena pemerintah membebaskan eksportir parkir uang di luar negeri. Beda dengan Thailand, Malaysia, dan China yang memaksa uang eksportir ke negara asalnya,” kata Farial.

Melihat bahaya yang ditimbulkan cukup parah, Farial mengusulkan agar rezim devisa bebas menjadi devisa tekendali. Dengan cara ini, pemerintah bisa mengatur arus keluar masuk investasi. Dana yang masuk juga akan bertahan lebih lama. (art)
• VIVAnews
Rupiah mata uang sampah peringkat keempat
Oleh Achmad Aris | 23 December 2010
bisnis

JAKARTA: Mata uang rupiah tercatat menempati posisi keempat sebagai mata uang sampah di dunia.

Hal itu diungkapkan oleh Pengamat Pasar Modal Farial Anwar dalam acara Proyeksi Ekonomi Indonesia 2011 yang diselenggarakan oleh Indef, tadi pagi.

“Nilai tukar kita itu sampai angka 100.000, kita seharusnya malu karena kalau di pasar uang disebut mata uang sampah dan kita nomor empat,” katanya.

Pada November 2008, mata uang rupiah berada pada posisi keenam sebagai mata uang sampah di dunia di mana posisi pertama diduduki oleh mata uang Zimbabwe, disusul Somalia, Turkmenistan, Vietnam, dan Sao Tome.

Namun komposisi tersebut berubah pada Desember 2010 seiring dengan kebijakan redenominasi yang dilakukan oleh Zimbabwe, Somalia, dan Turkmenistan. “Makanya saya setuju dengan rencana kebijakan redenominasi,” ujar Farial.(er)

Depresiasi Rupiah untuk Ekspor Sah-Sah Saja, Asal…
Jum’at, 24 Desember 2010 – 18:23 wib
Martin Bagya Kertiyasa – Okezone

JAKARTA – Depresiasi rupiah guna mendukung ekspor boleh-boleh saja dilakukan. Masalahnya, sampai saat ini devisa ekspor tidak dinikmati Indonesia.

“Saat ini kita paling kompetitif, kita paling terdepresiasi, tapi kita tidak menikmati hasil dari depresiasi ekspor itu sendiri,” ungkap Pengamat Ekonomi Farial Anwar, di Jakarta, kemarin.

Farial sendiri setuju jika rupiah terdepresiasi untuk mendukung ekspor, namun semua itu tetap ada syaratnya. “Kalau memang depresiasi rupiah digunakan untuk ekspor, saya dukung, asal devisa ekspor wajib masuk ke dalam negeri. Sekarang kan devisa ekspor malah ke luar negeri,” paparnya.

Menurutnya dengan rezim devisa bebas ini maka hanya eksportir yang diuntungkan jika ada depresiasi rupiah. “Dengan rezim devisa bebas yang untung ekportir, tapi yang kena dampaknya masyarakat,” tambahnya.

Dia menilai peredaran uang dari Indonesia paling banyak masuk ke Singapura. “Banyak yang masuk ke luar negeri seperti Singapura yang menjadi surga bagi pelarian uang dari Indonesia, para koruptor di Indonesia banyak yang menghabiskan uang di sana, makanya Singapura enggak mau menandatangani perjanjian ekstradisi,” imbuhnya.

Menurutnya saat ini pemerintah harus membuat peraturan yang mengharuskan devisa ekspor masuk ke Indonesia, agar tidak ada lagi dana yang terbuang percuma. “Jangan biarkan dananya gentayangan di negara lain,” pungkasnya.(ade)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s