trilema dana ASIEN-k … 171210

Kamis, 16/12/2010 12:52 WIB
BI Alami ‘Trilema’ Hadapi Arus Dana Asing
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mempunyai permasalahan tersendiri terkait derasnya aliran modal masuk (capital inflow) yang terus terjadi belakangan. Bank sentral menyatakan adanya ‘trilema’ atau 3 dilema dalam menentukan kebijakan moneter di tengah capital inflow tersebut.

“Pasca krisis global, terdapat two-speed recovery dalam pemulihan ekonomi global yang menyebabkan derasnya arus modal masuk. Hal ini menimbulkan trilema dalam kebijakan moneter,” ujar Deputi Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juda Agung, dalam seminar bertemakan Reformasi Kebijakan Moneter dan Pengawasan Bank di Indonesia Pasca Krisis Global di Hotel Intercontinental, Kamis (16/12/2010).

Ia memaparkan ‘trilema’ dalam kebijakan moneter tersebut yakni dalam menjaga stabilitas nilai tukar, mobilitas arus modal, dan otonomi kebijakan moneter.

“Di mana sekarang mengharuskan BI untk menyikapi trilema tersebut,” tuturnya.

Menurutnya, jika menggunakan kebijakan terdahulu di mana transmisi kebijakan moneter hanya direspon melalui suku bunga seringkali berjalan tidak efektif. Sebagai contoh, sambung Juda kebijakan menurunkan suku bunga pada 2006 dan 2009 dihadapkan kepada kendala rigiditas perilaku bank.

“Persepsi bank terhadap risiko sangat mendominasi perilaku bank dalam pembenkan suku bunga dan penyaluran kredit. Suku bunga BI turun tidak berarti turun juga suku bunga kredit. Suku bunga BI (BI rate) 6,5% tetapi suku bunga kredit perbankan masih 13%,” jelasnya.

Juda juga menambahkan, instrumen kebijakan suku bunga tidak selalu efektif dalam mengendalikan inflasi domestik. Maka dari itu, Juda menilai diperlukan adanya bauran instrumen termasuk instrumen makroprudensial.

Lebih jauh Juda mengatakan, dalam mengelola arus modal masuk terdapat enmpat implikasi kebijakan yang perlu direspon.

Pertama ialah stance kebijakan moneter yang tetap diarahkan agar selalu konsisten menjaga inflasi. Kedua berkaitan dengan kondisi masih semakin eratnya hubungan stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan.

“Ketiga perlunya mengoptimalkan piranti moneter dan kebijakan lain seperti instrumen Giro Wajib Minimum (GWM) dan kebijakan terakhir yakni berkaitan dengan koordinasi kebijakan dalam memitigasi risiko yang muncul sewaktu-waktu,” paparnya.

Koordinasi kebijakan, sambung Juda juga terkait dengan upaya memanfaatkan aliran modal masuk yang diperkirakan terus berlanjut di 2011.

“Dalam hubungan ini kebijakan untuk pendalaman pasar keuangan atau financial deepening dan pembentukan financial safety net menjadi mendesak untuk dilakukan dan diwujudkan,” tukasnya.

(dru/dnl)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s