rahasia BBRI KINCLONk … 171210

Ketika Bank Pelat Merah Kian Cerah
Koran SI
Kamis, 16 Desember 2010 – 08:01 wib

BANK badan usaha milik negara (BUMN) yang selama ini dianggap lamban sehingga sulit bersaing ternyata mampu meraup laba bersih dengan cemerlang. Apa rahasianya?

Langsung saja kita amati kinerja bank BUMN per kuartal III-2010.Meskimenduduki peringkat kedua menurut total aset,PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) merajai pencapaian laba bersih Rp6,66 triliun. Lalu, di tempat kedua PT Bank Mandiri Tbk membayangi dengan laba bersih Rp6,39 triliun,kemudian PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Rp2,95 triliun, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Rp597,24 miliar.

Pencapaian itu didukung kredit tahunan (year on year/yoy) yangtumbuh signifikan. Kali ini Bank Mandiri memimpin dalam mengucurkan kredit dari Rp188,28 triliun per September 2009 menjadi Rp231,85 triliun per September 2010 atau tumbuh 23,14 persen.

Lalu, disusul BRI dari Rp192,23 triliun menjadi Rp228,69 triliun (18,97 persen),BNI dari Rp122,11 triliun menjadi Rp126,07 triliun (3,24 persen), dan BTN dari Rp38,12 triliun menjadi Rp49,18 triliun (29,01 persen). Kinerja kredit yang meningkat ini tentu menunjang tercapainya target pertumbuhan kredit nasional 22-24 persen. Kinerja kredit ini didukung dana pihak ketiga (DPK) yang juga tumbuh subur.

Bank Mandiri pun memimpin lagi penghimpunan DPK dari Rp295,49 triliun per September 2009 menjadi Rp321,19 triliun per September 2010 atau tumbuh 8,70 persen.

Posisi ini diintip BRI yang DPK-nya tumbuh dari Rp220,08 triliun menjadi Rp257,02 triliun (16,78 persen), lalu BNI dari Rp160,03 menjadi Rp179,03 triliun (11,87 persen), dan BTN dari Rp33,72 triliun menjadi Rp43,03 triliun (27,61 persen). Pastilah kinerja itu sanggup mengangkat loan to deposit ratio (LDR) hampir semua bank BUMN. Kini giliran BTN meraja dengan LDR 114,30 persen diikuti BRI 88,98 persen, Bank Mandiri 69,62 persen, dan BNI 68,64 persen.

Artinya, kemampuan mengemban fungsi sebagai intermediasi keuangan bank BUMN kian meningkat meski dua bank terakhir belum mencapai LDR minimal 78 persen. Hebatnya,rasio kredit bermasalah (non-performing loan/net NPL) jauh di bawah ambang batas lima persen.

Tengok saja net NPL (sudah memperhitungkan cadangan) dari yang paling mini, yakni Bank Mandiri 0,71 persen, BNI 0,74 persen, BRI 1,15 persen dan BTN 3,48 persen. Meski net NPL masih jauh di bawah ambang batas lima persen, BTN wajib mewaspadai kecenderungan net NPL yang mendaki dari 3,40 persen per September 2009 menjadi 3,48 persen per September 2010.

Bagaimana tingkat efisiensi yang tampak pada rasio BOPO (rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional)? Formulanya, kian rendah BOPO kian efisien sebuah bank. Semua bank BUMN mampu mengerek tingkat efisiensi. Bank Mandiri paling efisien dengan BOPO 70,20 persen disusul BRI 72,99 persen, BNI 75,80 persen dan BTN 84,24 persen mendekati BOPO ideal 70–80 persen.

Dengan bahasa lebih lugas, bank BUMN makin efisien. Peningkatan pencapaian laba bersih masing-masing bank BUMN membuat return on assets (ROA) melejit. BRI memimpin dengan 3,65 persen diintai Bank Mandiri 3,05 persen, BNI 2,61 persen, dan BTN 1,93 persen. Rasio ini jauh di atas ambang batas 1,5 persen.

Hal ini menyiratkan bahwa kualitas aset bank BUMN kian berotot di tengah badai finansial. Itulah rapor biru bank BUMN.

Sejatinya,apa rahasia untuk mencetak laba tinggi? Pertama,margin bunga bersih (net interest margin/ NIM).Ternyata bank BUMN masih memelihara NIM tinggi.Hanya NIM BNI yang menipis, dari 6,05 persen per September 2009 menjadi 5,90 persen per September 2010. NIM lainnya justru menebal.

BRI memegang NIM tertinggi yang naik dari 9,21 persen menjadi 9,50 persen, Bank Mandiri dari 5,16 persen menjadi 5,35 persen dan BTN dari 4,29 persen menjadi 5,72 persen.Artinya,ratarata NIM bank BUMN naik dari 6,18 persen menjadi 6,62 persen di atas rata-rata NIM bank nasional 5,75 persen. Sungguh hal ini berseberangan dengan mimpi BI untuk memiliki NIM seperti Filipina sebesar 3,92 persen.

Ingat,kian tinggi NIM akan kian tinggi pula kesempatan untuk mampu meraup laba tinggi.Mengapa NIM BRI paling tinggi? Salah satu sebabnya karena BRI menjadi pemimpin pasar kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Apa pasal? Kredit UMKM menjanjikan margin yang gendut.

Kedua, kredit konsumsi. Hampir semua bank nasional papan atas termasuk bank BUMN rajin menggarap kredit konsumsi.Kredit yang penuh madu ini menawarkan antara lain kredit pemilikan rumah (KPR),kredit automotif,kartu kredit, kredit tanpa agunan (KTA).

Statistik Perbankan Indonesia pada September 2010 yang terbit 15 November 2010 menunjukkan kredit konsumsi melaju pesat 24,75 persen dari Rp411,47 triliun per September 2009 menjadi Rp513,32 triliun per September 2010. Padahal, kredit modal kerja ”hanya” tumbuh 21,01 persen dari Rp676,09 triliun menjadi Rp818,17 triliun sedangkan kredit investasi 17,65 persen dari Rp278,51 triliun menjadi Rp327,66 triliun pada periode yang sama.

Pertumbuhan kredit konsumsi yang begitu subur sungguh kurang diharapkan BI mengingat kredit konsumsi dianggap kurang mampu menggerakkan sektor riil. Padahal, kredit konsumsi akan lebih deras ketika Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) kian berkembang mulai Oktober 2010 dengan dana Rp2,68 triliun untuk membangun 72.000 unit rumah pada 2010. Ketiga, hasil tagihan kredit macet (credit recovery).

Pencapaian laba tinggi juga disokong oleh keberhasilan bank BUMN dalam menuntaskan kredit macet. Sebut saja Bank Mandiri dengan sukses telah menyelesaikan kredit bermasalah Domba Mas Group. Inilah langkah strategis yang patut ditiru bank lain. Keempat, peningkatan cadangan (penyisihan penghapusan aktiva produktif/PPAP).

PPAP ini dibentuk untuk mengantisipasi pembengkakan NPL ketika krisis mengancam. Namun, manakala kondisi cerah,PPAP itu dapat segera dialihkan menjadi laba.Komponen inilah yang memberikan kontribusi signifikan untuk mencetak laba tinggi. Akhir tutur, sekalipun memiliki rapor biru, bank BUMN wajib meningkatkan modal untuk mampu melakukan ekspansi kredit.

Terlebih ketika modal tersedot untuk memenuhi kenaikan giro wajib minimum (GWM) Primer dari lima persen menjadi delapan persen per 1 November 2010 dan membayar penalti berupa tambahan GWM 0,1 persen dari DPK rupiah untuk setiap satu persen kekurangan LDR ketika LDR belum mencapai minimal 78 persen per 1 Maret 2011.(*)

PAUL SUTARYONO
Pengamat Perbankan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s