bi usahe anti-kr1$1$ … 101210

Cara Jitu Bank Sentral Atasi Krisis Keuangan
Regulasi bank sentral tidak hanya untuk membuat bank menjadi sehat.
Kamis, 9 Desember 2010, 15:08 WIB
Arinto Tri Wibowo

VIVAnews – Guna menjaga stabilitas keuangan dan mengantisipasi dampak krisis, bank sentral diminta untuk mengeluarkan regulasi yang mencakup tiga tujuan utama.

Pertama, regulasi itu harus dapat mengurangi monopoli kekuasaan di sektor keuangan. Kedua, ada upaya melindungi kepentingan konsumen (customers protection), dan ketiga, regulasi yang dikeluarkan dapat mengatasi dampak krisis dari luar.

“Regulasi bank sentral tidak hanya untuk membuat bank menjadi sehat, tapi juga bisa mengatasi dampak krisis dari luar,” kata Profesor Emeritus dari London School of Economics, Charles Goodhart di sela seminar yang diselenggarakan SEACEN-Bank Indonesia bertajuk ‘Optimal Central Banking for Financial Stability’di Hotel InterContinental, Jimbaran, Bali, Kamis 9 Desember 2010.

Menurut dia, guna mengantisipasi dan mengatasi dampak krisis itu, bank sentral perlu menerapkan kebijakan makroprudensial. Kebijakan itu termasuk di antaranya dengan menerapkan ketentuan sesuai Basel III.

Mantan petinggi Bank Sentral Inggris itu menjelaskan, regulasi yang diterapkan bank sentral semestinya tidak hanya untuk menyelamatkan bank. Namun, kebijakan itu juga dapat mengatasi dampak dari krisis yang kemungkinan terjadi. “Kualitas modal perlu, namun bank juga harus dapat mengatasi dampak krisis itu,” tuturnya.

Goodhart juga menyoroti pentingnya pengendalian rasio likuiditas perbankan. Regulasi bank sentral tidak hanya untuk tujuan standar, namun sebaiknya dapat diimplementasikan guna menyelesaikan persoalan krisis yang berimbas ke sektor perbankan.

Sementara itu, Deputi Gubernur BI, Muliaman D Hadad mengatakan, dalam pertemuan deputi gubernur bank sentral se-Asean di Bali, dirinya mengharapkan adanya kesepakatan lebih detail tentang kerja sama di kawasan untuk mengatasi dampak krisis.

“Intinya adalah bagaimana dapat mengeluarkan kebijakan yang dapat mencegah dan mengatasi dampak krisis,” tuturnya.

Menurut Muliamaan, upaya itu bisa bermacam-macam, di antaranya apakah di negara kawasan perlu membentuk semacam jaring pengaman sistem keuangan (JPSK) atau kebijakan lainnya. “Itu bisa saja. Namun, untuk itu perlu adanya global crisis management yang di antaranya dapat juga melibatkan badan dunia seperti IMF dan Bank Dunia,” katanya.

Dia menambahkan untuk mewujudkannya perlu kesiapan perbankan di kawasan regional termasuk Indonesia. Meski demikian, negara-negara di negara berkembang sebenarnya memiliki potensi pertumbuhan lebih besar. Karena paska krisis, pertumbuhan lebih tinggi dibanding negara maju.

“Paling tidak di antara bank sentral Asean ada komunikasi kebijakan. Indonesia bisa belajar dari pengalaman Thailand, Filipina, atau sebaliknya,” ujarnya. (hs)
• VIVAnews

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s