daya beli @perbankan 2011 … 091210

*
06 Desember 2010
Perbankan 2011: Pertumbuhan di Tengah Ketatnya Persaingan Dana
Mirza Adityaswara
* Ekonom, analis perbankan dan pasar modal

Sampai November, 2010 merupakan tahun yang menggembirakan bagi perbankan Indonesia. Kebijakan rekapitalisasi perbankan di Amerika dan Inggris disertai kebijakan suku bunga rendah di negara maju dan negara berkembang telah berhasil memulihkan ekonomi dunia, yang jatuh drastis di akhir 2008 dan 2009.

Ditopang pemulihan ekonomi dunia, ekonomi domestik Indonesia mengalami akselerasi pada 2010. Laporan Dana Moneter Internasional (IMF) yang terbit Oktober lalu memperkirakan ekonomi dunia akan tumbuh 4,8 persen pada 2010, meningkat signifikan dari minus 0,9 persen pada tahun lalu. Sementara pada 2009 hanya tumbuh 4,5 persen, sampai kuartal ketiga 2010 ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,9 persen, dan diperkirakan bisa mencapai pertumbuhan 6 persen untuk keseluruhan tahun 2010.

Pada 2009, pertumbuhan kredit perbankan Indonesia hanya mencapai 10 persen. Tapi, pada 2010, sampai September, kredit tumbuh 21 persen dibanding September 2009. Terkendalinya inflasi di sekitar 5,8 persen telah mendorong Bank Indonesia mempertahankan kebijakan suku bunga rendah 6,5 persen.

Dari sisi sektoral, kredit sektor perdagangan naik 14 persen, kredit buat sektor pertanian (termasuk sektor perkebunan) naik 22 persen, dan kredit untuk sektor pertambangan naik 66 persen. Yang disayangkan, kredit untuk sektor manufaktur hanya tumbuh 8 persen. Padahal sektor manufaktur merupakan 15 persen dari total kredit nasional, bahkan 25 persen dari struktur produk domestik bruto perekonomian Indonesia. Mungkin perbank-an belum melihat prospek positif di sektor manufaktur Indonesia. Bisa pula permintaan kredit dari sektor ma-nufaktur tidak meningkat signifikan lantaran kalah bersaing dengan produk impor atau barang buatan Cina.

Dari sisi penggunaannya, kredit perbankan di Indonesia masih didominasi kredit modal kerja dan kredit konsumsi. Kredit modal kerja menyumbang 49 persen dari total kredit dan tumbuh 22 persen per September 2010. Kredit konsumsi merupakan 31 persen dari total kredit, dan tumbuh 24 persen. Sedangkan kredit investasi hanya 20 persen dari total kredit, dan tumbuh 18 persen. Pe-ningkatan kredit modal kerja dan kredit investasi merupakan hal yang positif. Artinya, sektor produktif berjalan. Namun, dari sisi penyerapan tenaga kerja, biasanya ekspansi investasi akan memiliki dampak yang lebih besar dan permanen dibanding peningkatan kredit modal kerja.

Kredit properti di Indonesia belum mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, meski baru 14 persen dari total kredit, dan pertumbuhannya hanya 11 persen per September 2010. Hanya, yang perlu dimonitor adalah pertumbuhan kredit real estate kepada developer, yang lebih tinggi (26 persen) dibanding pertumbuhan kredit pemilikan rumah (12 persen). Artinya, jangan sampai yang membangun rumah dan gedung lebih banyak dibanding yang membeli, yang bisa menimbulkan risiko oversupply.

Berkat adanya potensi mendapatkan margin bunga yang lebih gemuk di sektor kredit kecil dan mikro-serta insentif aturan permodalan bank yang lebih ringan jika memberikan kredit kepada sektor usaha kecil-kredit mikro, kecil, dan menengah (MKM) telah sanggup tumbuh 25 persen per September 2010. Bahkan kredit MKM mengambil porsi 53 persen dari total kredit perbankan di Indonesia. Tapi porsi kredit konsumsi di kredit MKM kembali mengambil porsi terbesar, yaitu mencapai 52 persen dari total kredit MKM. Sedangkan kredit modal kerja memiliki porsi 38 persen dan kredit investasi hanya 9 persen dari total kredit MKM.

Angka pertumbuhan kredit tadi dikagumi oleh investor pasar modal karena membuat perbankan Indonesia memiliki tingkat keuntungan yang tinggi, yang tecermin dari tingginya return on asset (2,91 persen). Keuntungan tinggi dimiliki oleh perbankan Indonesia karena mereka berhasil tumbuh dengan memperoleh �margin bunga bersih” atau net interest margin yang tinggi (5,75 persen) dan memiliki kredit bermasalah yang rendah (2,96 persen). Tidak aneh jika saat ini dari sisi valuasi price to book (PBV), perbankan Indonesia merupakan salah satu yang termahal di dunia. Bank bank besar di Indonesia memiliki valuasi di atas 3 kali, bahkan ada yang di atas 4 kali PBV-bandingkan dengan valuasi bank bank di luar negeri, yang hanya 1,5 kali sampai 2 kali PBV.

Bagaimana Prospek pada 2011?

Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan sedikit melambat dari positif 4,8 persen pada 2010 menjadi 4,2 persen pada tahun depan. Otoritas moneter di Cina, India, Australia, Thailand, dan Taiwan pada semester kedua 2010 sudah menaikkan suku bunga dan giro wajib minimum (GWM) beberapa kali untuk mencegah inflasi yang diakibatkan oleh gejala ekonomi yang mulai memanas. Otoritas moneter di Indonesia juga berusaha mencegah overheating, tapi mempertahankan suku bunga rendah 6,5 persen, sehingga yang dipilih adalah menyedot likuiditas dengan menaikkan GWM dari 5 persen menjadi 8 persen.

Gejala overheating di Indonesia terlihat dari pertumbuhan impor, kenaikan inflasi, dan menurunnya surplus neraca perdagangan. Kebijakan suku bunga rendah mungkin dipertahankan oleh Bank Indonesia di semester pertama 2011 selama suku bunga Amerika dan Eropa belum meningkat. Mempertahankan suku bunga rendah sekaligus untuk mencegah aliran modal portofolio asing yang masuk terus ke Indonesia. Maka jangan heran jika Bank Indonesia memilih menaikkan GWM lagi pada 2011. Kalaupun BI Rate harus naik, diperkirakan hanya meningkat 0,5 persen menjadi 7 persen pada 2011. Kemungkinan pembatasan pemakaian bensin Premium diperkirakan akan menaikkan inflasi pada 2011. Prediksi inflasi pada 2011 berkisar 6,2 persen.

Dengan suku bunga rendah dan aliran modal portofolio asing yang masih akan terus masuk ke Indonesia pada 2011, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 6,3 6,5 persen pada 2011. Pertumbuh-an kredit modal kerja dan investasi diperkirakan lebih tinggi. Perbaikan peringkat kredit Indonesia menjadi investment grade akan membuat semakin banyak korporasi Indonesia mendapat akses pembiayaan dari pasar keuangan internasional. Pertumbuhan kredit perbankan Indonesia diperkirakan 20 25 persen pada 2011.

Yang menjadi tantangan adalah persaingan memperoleh dana pihak ketiga. Aliran modal asing yang masuk deras ke pasar keuangan ternyata tidak mengalir ke pasar deposito perbankan. Pertumbuhan dana pihak ketiga hanya 15 persen per September 2010. Walaupun loan to deposit ratio (LDR) terlihat masih relatif rendah (77 persen), LDR bank swasta nondevisa sudah 81 persen, bank campuran 100 persen, dan bank asing 90 persen. Bahkan, jika tiga bank yang LDR nya rendah dikeluarkan (Bank Mandiri, BCA, dan BNI), LDR sepuluh bank besar di Indonesia sudah di atas 85 persen. Artinya, persaingan bunga deposito akan semakin meningkat.

Kondisi ekonomi yang kondusif akan membuat bank semakin berani menurunkan bunga kredit. Persaingan bunga kredit sudah terlihat pada 2010, terutama untuk kredit korporasi, kredit pemilikan rumah, dan kredit mobil. Kombinasi naiknya bunga deposito dan turunnya bunga kredit akan membuat net interest margin menurun pada 2011, mungkin 0,5 0,75 persen, yang artinya menjadi 5 persen.

Tantangan kedua adalah permodalan. Sebagai anggota G 20, Indonesia wajib mengikuti peraturan permodalan Basel III. Walaupun Basel III baru akan dimulai pada 2013-sampai 2019-bank bank besar di Indonesia harus sudah mulai membuat standar bahwa rasio kecukupan modal (CAR) tidak lagi 8 persen, tapi 13 persen. Harga modal bank akan semakin mahal karena perbank-an dunia akan mencari tambahan modal pada 2011 2013. Setelah BNI, BTPN, dan CIMB Niaga, pada 2011 Bank Mandiri, Bukopin, dan mungkin BTN dan BRI juga akan mencari tambahan modal.

Tantangan ketiga adalah menjaga kualitas aset. Biasanya, pada saat suku bunga rendah, problem belum terdeteksi. Tapi nanti, jika suku bunga mulai meningkat pada 2012, akan terlihat nasabah yang tidak mampu membayar utang kreditnya. Di sinilah diuji kepiawaian perbankan Indonesia mengelola manajemen risikonya pada 2011.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s