bahaya REGIONAL … 081210

Capital inflow ke emerging market pada 2011 diperkirakan akan melonjak menjadi US$833,5 miliar dari US$825 miliar tahun ini.

Data tersebut diungkapkan oleh Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo berdasar proyeksi Institute of International Finance per Oktober 2010.

Sumber : INILAH.COM

… dana masuk sebesar tersebut di atas adalah BAHAYA BWAT ASIA … karena pembalikan arah yang signifikan dan fundamental AKAN MENYERET SELURUH KAWASAN, termasuk INDONESIA, masuk ke KRISIS BARU 😦 …. well, itu sebabnya kerja sama regional TETAP penting dan AMAT DIBUTUHKAN
RI Masih Jauh dari Investment Grade?
Headline

Oleh: Asteria
Ekonomi – Rabu, 8 Desember 2010 | 15:32 WIB

INILAH.COM, Singapura – Indonesia tinggal dua langkah lagi menuju rating kredit kelas investasi (investment grade). Meski memuji prestasi RI, Standard & Poor menilai, harapan mencapai status ini, masih terlalu dini.

Menurut S&P, Indonesia telah membuat langkah signifikan atas pengembangan lembaga politik yang diperlukan bagi negara untuk meraih status kelas investasi (investment grade). Namun, sayangnya bagi investor dan pembuat kebijakan negara yang optimistis, hal itu belum terlihat.

“Secara umum, penguasa investment grade bertanggung jawab atas nasib mereka sendiri, yang berarti mampu menyerap guncangan eksogen dengan bersandar pada kekuatan ekonomi, politik, dan kelembagaan,” kata analis kredit S&P Agost Benard dalam pernyataannya, Selasa (7/12).

Berdasarkan kriteria S&P, kekuatan, prediktabilitas, dan transparansi lembaga-lembaga politik negara merupakan salah satu pertimbangan utama dalam penilaian. “Indonesia telah berkembang pesat selama dekade terakhir, walaupun masih memiliki beberapa cara untuk melemah,” katanya.

Benard mengomentari laporan S&P berjudul “How Far, Or Close, Is Indonesia To An Investment-Grade Rating?” yang dipublikasikan baru-baru ini. Laporan ini memicu pelbagai pertanyaan dari investor dan komentator di pasar negara berkembang, tentang berapa lama lagi Indonesia bisa mencapai status investment grade.

Seperti diketahui, S&P memberi memberi peringkat BB (dengan pandangan positif) kepada Indonesia untuk hutang dalam mata uang asing, atau dua level di bawah tingkat investasi. Sedangkan pada awal bulan ini, pemeringkat pesaingnya, Moody’s juga mengeluarkan pandangan positif untuk utang mata uang asing Indonesia, dengan tingkat Ba2 (sama dengan S&P rating).

“Prospek positif atas peringkat kredit BB di Indonesia menandakan tren membaik dari kredit pemerintah, yang berarti ada kemungkinan Indonesia meraih tingkat investasi, hal yang tidak dapat tidak dihindari,” ujar Benard.

Ia merujuk pada keberhasilan pemilihan presiden dan parlemen pada 2009, yang memperlihatkan proses pemilihan yang lancar dan kontinuitas kebijakan pada manajemen ekonomi dan fiskal. Namun, Benard juga memperingatkan bahwa lembaga-lembaga dan birokrasi di Indonesia masih berkembang, dan lebih lemah ketimbang kebanyakan kredit lain yang mendapat rating BBB.

Menurutnya, pengembangan sistem checks and balances dan kerangka hukum menjadikan Indonesia lebih bisa diprediksi, sehingga faktor-faktor politik ini tidak lagi menjadi kendala pada rating kredit. Namun, ada hambatan lain, terutama terkait dengan struktur ekonomi negara dan prospek pertumbuhan.

“Pasar kerja tidak fleksibel, daya dan infrastruktur yang tidak memadai, ketidakpastian hukum, korupsi, hambatan birokrasi, dan ketidakkonsistenan kebijakan dan peraturan antara pelbagai tingkat pemerintahan yang dikombinasikan dengan lingkungan bisnis yang sulit,” ujar Benard.

Menurut S&P, kendala kredit utama Indonesia adalah tingginya pinjaman pada dana asing. Sekitar 57% utang pemerintah merupakan utang luar negeri. Hal ini mencerminkan ketergantungan yang tinggi pada pembiayaan eksternal karena pasar modal dalam negeri yang dangkal dan rendahnya tingkat tabungan.

Meskipun pemerintah berupaya menurunkan ketergantungan pada dana asing dan menggeser pinjaman campuran secara bertahap ke mata uang lokal, hal ini masih membutuhkan waktu lama untuk diterjemahkan sebagai kerentanan rendah.

“Kami melihat kredit rating Indonesia membentuk pola peningkatan. Namun, tidak ada waktu tertentu, juga tidak ada resep informasi atau perbaikan khusus yang diperlukan sebelum status investment grade tercapai.”

Selama lebih dari satu dekade, Indonesia, dengan rating mata uang asing BB / Positive / B dan mata uang lokal BB + / Positif / B, telah bergerak terus ke arah kestabilan politik dan ekonomi makro, yang merupakan elemen penting dari pengurangan bertahap dari beban utang publik dan luar negeri yang besar, warisan krisis keuangan Asia 1998.

Efektivitas melanjutkan reformasi, respon pemerintah terhadap setiap guncangan eksternal lebih lanjut, dan perubahan rasio utang, memantapkan kebijakan dan ekspektasi pertumbuhan saat ini, selain akan menentukan keberhasilan Indonesia menjadi negara investasi kelas. [ast]
Ancaman Penggelembungan Ekonomi Belum Terbukti
Rabu, 08 Desember 2010 | 10:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, Indonesia tak perlu khawatir ancaman gelembung ekonomi karena portofolio asing masih bisa dikendalikan.

“Portofolio asing kita US$ 19 miliar, Foreign Direct Investment (FDI) US$ 13 miliar,” kata Perry saat ditemui wartawan di Universitas Katolik Atmajaya, Rabu (8/12).

Ia menyatakan, kekhawatiran yang diungkap ekonom Indef yang juga sekretaris Komite Ekonomi Nasional Aviliani soal gelembung ekonomi belum bisa dibuktikan.

Sebelumnya, Aviliani menyatakan, dana yang masuk sudah tiga kali lipat dari FDI. “Hati-hati buble,” kata Aviliani kemarin.

Aviliani berharap, pemerintah mulai serius melakukan pengelolaan dana asing ini. Akan lebih baik, kata Avi, jika dana asing banyak ditanam di sektor riil, sehingga bisa mendorong peningkatan FDI.

Data FDI sebelumnya dikeluarkan oleh Kepala Biro Kebijakan Moneter Bank Indonesia Sugeng. Menurut Sugeng, perkembangan FDI cukup signifikan. “Kalau di 2009 sebesar US$ 4,4 miliar, di 2010 kwartal 1 US$ 2,9 miliar, dan 2010 kuartal US$ 23,3 miliar,” kata Sugeng kemarin. Namun angka ini diralat oleh Perry hari ini.

FEBRIANA FIRDAUS

Asian economies should cooperate on exchange rates to manage capital inflows and boost regional trade as faltering recoveries in advanced economies threaten demand for exports, an Asian Development Bank unit said.

“Greater regional cooperation may allow the region’s economies to be more willing to appreciate currencies without fear of losing competitiveness to other economies, thus helping global rebalancing,” The Manila-based ADB’s Office of Regional Economic Integration said in its December Asia Economic Monitor released today.

Asian currencies have climbed in a range of 1.7 percent to 11.5 percent against the dollar this year, except for the Hong Kong currency, which is pegged to its U.S. counterpart. “Weak” growth in advanced economies in the next several years will lead to a difference in growth rates between Asia and the U.S. and Europe, sustaining the region’s currency gains and resulting in “long-lasting” capital inflows, according to the ADB report.

The ADB raised the 2010 growth forecast for developing Asia to 8.6 percent from its September estimate of 8.2 percent, the bank said in a separate note today. It kept the 2011 forecast at 7.3 percent.

While weak demand in the U.S., along with the sovereign debt crisis in Europe and deflation in Japan, is hurting prospects for Asian exports, efforts by the U.S. Federal Reserve to bolster growth also increases the risks of asset price bubbles and higher inflation in the region, the ADB office said.

Sumber : BLOOMBERG.COM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s