refloat bnii … 071210

Divestasi 20% saham Maybank belum jelas
Oleh Ratna Ariyanti | 07 December 2010

bisnis

JAKARTA: Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) belum dapat menentukan apakah pihaknya akan memberikan perpanjangan waktu tambahan penjualan kembali 20% saham bagi Malayan Banking Berhard (Maybank).

Ketua Bapepam-LK A. Fuad Rahmany berharap waktu enam bulan yang diberikan otoritas pasar modal hingga 1 Juni 2011 dapat dimanfaatkan Maybank untuk merampungkan pelepasan kembali 20% saham PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) ke publik.

Kendati demikian, Maybank dapat menghentikan pelepasan saham jika perseroan mengalami kerugian di atas 10% dan melanjutkan kembali ketika harga saham mulai membaik. “Kita lihat nanti saja. Kan tergantung harganya. Saat ini harga bagus, mereka sudah mulai harus jual. Kalau harga drop dan kerugian di atas 10% mereka berhenti dulu,” ujarnya di Jakarta hari ini.

Fuad memandang pemberian waktu pelepasan kembali hingga 1 Juni 2011 dapat memberi ruang bagi perseroan agar dapat memenuhi ketentuan pelepasan kembali saham tanpa perlu menanggung kerugian akibat koreksi harga saham.

“Proses penjualannya saya kasih waktu 6 bulan supaya penjualannya bisa smooth dan harga sahamnya tidak jatuh,” katanya.

Regulasi pelepasan kembali saham, lanjut Fuad, dibuat agar dapat menambah ketersediaan pasokan di pasar modal. Kendati demikian, penjualan kembali diharapkan tidak disertai dengan kerugian.

“Kami tidak mau memaksa sehingga perusahaan mengalami kerugian. Nanti enggak kondusif, enggak ada orang masuk pasar modal kalau kita bikin peraturan yang membuat orang rugi. Saya nggak mau terlalu keras juga. Yang penting, jual lagi saham Anda di pasar supaya ada saham BII,” ujarnya.

Maybank merampungkan proses akusisi 55,6% saham BII dari tangan anak usaha Temasek, Fullerton Financial Holdings Pte. Ltd dan Kookmin Bank pada September 2008. Proses akuisisi ini sempat mendapatkan sandungan karena bank sentral di Malaysia, Bank Negara Malaysia, berniat mencabut izin akuisisi BII lantaran menilai adanya potensi kerugian hingga US$ 1 miliar.

Potensi itu muncul karena Maybank harus mengikuti aturan baru Bapepam, yang mewajibkan pengembalian saham publik minimal 20% dalam waktu dua tahun setelah tender offer. Semula, Maybank meminta perpanjangan jangka waktu pengembalian saham ke publik dilakukan selama 5 tahun setelah tender offer.

Bapepam-LK kala itu menolak permintaan itu dan menjanjikan untuk memberikan perpanjangan waktu pelaksanaan kewajiban tersebut jika Maybank menderita kerugian material. Patokannya adalah harga saham BII lebih rendah 10% dari harga akuisisi atau Rp510 per lembar saham.

Harga saham BII yang diperdagangkan dengan kode BNII pada penutupan perdaganan Senin lalu naik Rp10 atau 1,37% ke level Rp740. (bsi)

Bapepam Minta Maybank Lepas Saham BNII ke Pasar
Headline
IST
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Selasa, 7 Desember 2010 | 18:29 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) meminta Maybank untuk kembali melepas saham BNII ke publik agar menambah barang di pasar dan menjaga pasar modal.
“Harus jual lagi biar ada lagi barang (saham). Penjualan sahamnya juga dapat dilakukan bertahap dengan jangka waktu enam bulan,” kata Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany, Senin (6/12) malam.
Menurut Fuad, waktu enam bulan adalah proses jual saham dan bukan di perpanjang. Diharapkan penjualan saham selesai pada Juni 2011. Penjualan saham ini dapat dilakukan bertahap dengan melihat harga agar tidak rugi. “Harga sudah bagus sehingga masuk ke pasar dan proses penjualannya enam bulan,” tambah Fuad.
Sebelumnya, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) telah mengirim surat kepada Malayan Bank (Maybank) untuk kembali menjual saham PT Bank International Indonesia Tbk (BNII) ke publik. “Kita sudah kirim ke mereka pada 30 November. Mereka akan mulai laksanakan karena harganya sudah bagus,” ujar Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany.
Lebih lanjut, ia mengatakan Bapepam-LK memberikan waktu selama enam bulan untuk mulai menjual saham mulai dari sekarang. Proses penjualan saham dilakukan selama 6 bulan.Fuad menuturkan, penjualan saham itu akan dilakukan pelan-pelan agar tidak menganggu harga di pasar. “Prosesnya enam bulan, dan tidak jual dalam bentuk besar karena nanti harganya jatuh jadi jual pelan-pelan. Kalau mereka lepas semua nanti anjlok pasar modal karena kebanyakan barang, jadi jual pelan-pelan agar pasar tetap likuid,” tegas Fuad.
Malayan Bank telah mengakuisisi 97% saham BII pada 2008. Malayan Bank membayar tender offer saham publik BII pada 19 November 2008. Setelah penawaran tender offer tersebut, saham publik BII yang tersisa hanya 3%. [cms]

Investasi
HOME|AKSI KORPORASI |

Senin, 06 Desember 2010 | 09:53 oleh Ade Jun Firdaus, KONTAN
AKSI KORPORASI
Maybank wajib refloat BNII dalam 6 bulan

JAKARTA. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) meminta Malayan Banking Berhad alias Maybank, pemegang saham pengendali BNII, menuntaskan penjualan kembali (refloat) 20% saham PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII) ke publik selama enam bulan ke depan.

Hal itu tertulis dalam surat tertanggal 30 November 2010.

Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany menjelaskan, tidak mungkin meminta Maybank menjual langsung 20% saham BNII. “Kalau dijual sekaligus, harga sahamnya (BNII) bisa dipastikan anjlok. Kami kasih waktu supaya Maybank bisa menjual pelan-pelan,” ujar dia, akhir pekan lalu.

Jika waktu refloat dihitung sejak tanggal pengiriman surat, berarti Maybank harus menuntaskan penjualan 20% saham BNII sebelum akhir Mei 2011.

Fuad memastikan, penetapan waktu refloat BNII selama enam bulan bukanlah perlakuan khusus regulator pasar modal terhadap Maybank. Pertimbangan Fuad, jika harga saham BNII terjun bebas, akan muncul imbas negatif ke bursa saham secara keseluruhan.

“Ketentuan ini bertujuan agar pasar modal lebih likuid. Kalau kami suruh mereka jual semua, bisa-bisa malah menjadi skandal berat di pasar,” imbuh Fuad.

Sekadar mengingatkan, Maybank sempat ragu-ragu mengakuisisi 56% saham BNII dari dua pemilik terdahulunya, Fullerton, anak perusahaan Temasek serta Bank Kookmin asal Korea Selatan karena ketentuan refloat.

Maklum, bank sentral Malaysia sempat mengancam mencabut restunya bagi Maybank untuk mengakuisisi saham BII. Dalam hitungan otoritas perbankan di negeri asalnya, Maybank bisa merugi hingga US$ 1 miliar jika melakukan refloat dalam waktu dua tahun setelah pembelian.

Maybank sempat meminta ke Bapepam-LK melakukan refloat dalam waktu lima tahun setelah tender offer. Namun Bapepam menolak usul tersebut. Saat itu, Bapepam LK hanya menjanjikan perpanjangan waktu refloat, dengan syarat Maybank mengajukan bukti menderita kerugian material jika melakukan penjualan kembali dalam waktu dua tahun.

Saat Maybank akhirnya memfinalisasi pembelian 56% saham dari Fullerton dan Kookmin, akhir September 2008, Bapepam-LK tidak menegaskan tentang persyaratan masa pelepasan saham yang harus ditaati Maybank.

Pengawat bursa saham, Willy Sanjaya, menilai kepastian waktu refloat merupakan kesempatan bagus bagi investor untuk mengantongi saham BNII. “Bisa jadi Maybank menawarkan dengan harga diskon, lebih rendah daripada harga di pasar,” ujar Willy, Minggu (5/12).

Bunga acuan yang tak beranjak sejak Agustus 2009 dari posisi 6,5% meniupkan sentimen positif untuk saham-saham perbankan. Hingga kini, saham sektor perbankan mencatat pertumbuhan harga yang tertinggi dibanding saham lainnya. Kendati demikian, Willy menyarankan investor tidak gelap mata memanfaatkan refloat saham BNII. “Lihat dulu berapa harga yang ditawarkan Maybank,” ujar dia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s