rupiah mendukung eksportir LAH … 241110

BI mencatat aliran modal keluar dari pasar keuangan terus berlanjut, tercatat Rp 1,12 triliun selama periode 15 November 2010 sampai 19 November 2010 dana asing keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Sumber : IPS Research
Selasa, 23/11/2010 21:33 WIB
BI: Dana Asing Rp 1,12 Triliun ‘Kabur’ dari RI
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal keluar dari pasar keuangan terus berlanjut. Dana asing ‘kabur’ Rp 1,12 triliun selama sepekan pada periode 15 November 2010 sampai 19 November 2010 dari pasar keuangan RI.

Demikian disampaikan oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat BI Difi Ahmad Johansyah melalui surat elektroniknya kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (14/11/2010).

“Outflow dana asing kembali berlanjut. Selama periode laporan tanggal 15 sampai 19 November 2010 tercatat sekitar Rp 1,12 triliun dana asing yang keluar dari pasar keuangan domestik,” ujar Difi.

Meskipun pada akhir pekan investor kembali masuk ke pasar SUN, Difi mengatakan hal tersebut belum mampu mengimbangi angka outflow SUN pada hari-hari sebelumnya.

“Sehingga dalam sepekan terakhir, kepemilikan SUN asing masih tercatat turun sebesar Rp 2,1 triliun hingga menurunkan pangsa SUN asing dari 30,75% menjadi 30,46%,” tambahnya.

Sebaliknya, Difi mengungkapkan kepemilikan SBI asing pada periode laporan yang sama, justru naik meskipun hanya Rp 0,94 triliun. Hal ini, sambung Difi meningkatkan pangsa SBI asing dari 29,57% menjadi 30,2%.

“Sementara pada pasar saham domestik, sentimen positif pasar keuangan dalam negeri berhasil mengimbangi sentimen negatif yang bersumber dari pelemahan sebagian besar bursa Eropa dan Asia. Sehingga IHSG masih ditutup menguat 1,62% dari level 3665,85 menjadi 3725,05,” katanya.

Kondisi yang cukup kondusif ini, menurut Difi berpengaruh pada meningkatnya net beli saham asing yang dalam sepekan mencapai Rp 31,2 miliar. “Atau 27,62% dari total transaksi saham,” tukasnya.

(dru/dnl)
Aliran dana asing keluar (capital outflow) kembali berlanjut pada periode 15-19 November 2010. Capital outflow tercatat mencapai Rp1,12 triliun dari pasar keuangan domestik.

Kepemilikian SUN asing masih tercatat turun sebesar Rp2,1 triliun hingga menurunkan pangsa SUN asing dari 30,75% jadi 30,46%. Kepemilikan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) asing pada periode yang sama naik sedikit, yaitu sebesar Rp940 miliar. Itu membuat pangsa SBI asing naik dari 29,57% menjadi 30,2%.

Pada pasar saham domestik, sentimen positif pasar keuangan dalam negeri berhasil mengimbangi sentimen negatif yang bersumber dari pelemahan sebagian besar bursa Eropa dan Asia

Sumber : MEDIA INDONESIA
Rabu, 24/11/2010 08:30 WIB
Korea Memanas, Rupiah Hadapi Tekanan
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Memanasnya hubungan Korea Utara dan Korea Selatan akan berimbas pula pada pergerakan nilai tukar rupiah. Dalam beberapa hari kedepan, rupiah diprediksi akan menghadapi tekanan.

“Dalam seminggu ke depan, rupiah mungkin akan mengalami tekanan melemah terhadap dolar AS dengan adanya ketidakpastian di Eropa serta munculnya ketegangan militer baru di Korea,” jelas Anton Hendranata, ekonom Bank Danamon dalam ulasan perekonomian mingguannya, yang dikutip Rabu (24/11/2010).

Anton menjelasan, secara rata-rata, selama seminggu yang lalu rupiah melemah 0,65% terhadap dolar AS. Namun demikian, pelemahan rupiah relatif rendah dibandingkan dengan pelemahan mata uang regional. Rupee dan won mengalami pelemahan yang cukup signifikan, masing-masing sebesar 1,88% dan 1,83%. Pelemahannya, jauh di atas rata-rata indeks mata uang Asia yang hanya 0,63%.

Ia menambahkan, dalam tiga bulan terakhir sejak Agustus 2010, walaupun rupiah relatif stabil terhadap dolar, analisa nilai tukar rata-rata tertimbang atau REER menunjukkan nilai rupiah cenderung melemah terhadap mata uang negara-negara mitra dagang Indonesia.

“Sehingga bila dolar AS kembali melemah terhadap mata-mata uang global, rupiah masih memiliki ruang untuk menguat terhadap dolar tanpa mengorbankan daya saing ekspor Indonesia,” ujarnya.

Namun Anton memperkirakan dalam seminggu ke depan, Rupiah mungkin akan mengalami tekanan melemah terhadap dolar AS dengan adanya ketidakpastian di Eropa serta munculnya ketegangan militer baru di Korea.

Konflik antara Korsel dan Korut plus krisis utang di Irlandia memang telah membuat dolar AS kembali menguat atas euro.

Pada perdagangan Selasa di bursa AS, euro melemah ke level 1,3364 dolar, dibandingkan sebelumnya di level 1,3622 dolar. Namun dolar AS melamah atas yen ke posisi 83,16 yen, dibandingkan sebelumnya 83,29 yen.

“Dolar AS menguat karena pelaku pasar mencari tempat investasi yang aman setelah Korut menembakkan artilerinya ke Korsel dan berlanjutnya kekhawatiran terhadap krisis di Eropa,” ujar analis dari Brown Brothers Herman seperti dikutip dari AFP.

Pada perdagangan Selasa kemarin, nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level 8.985 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 8.930 per dolar AS.

Sementara pagi ini rupiah dibuka langsung melemah ke level 8.990 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 8.985 per dolar AS.
(qom/qom)
Kementerian PPN/ Bappenas meyakini pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4% pada tahun depan tidak akan terganggu oleh dampak dari kebijakan quantitative easing (QE) yang dilakukan oleh Bank Sentral AS.

Seperti diketahui, pada 3 November, Federal Open Market Committee (FOMC) atau komite pasar terbuka The Fed mengumumkan rencana pembelian surat utang pemerintah sebanyak US$600 miliar hingga akhir Juni. Sebanyak US$7,229 miliar di antaranya telah dibeli, yang disebut QE tahap II.

Kebijakan itu diperkirakan membuat dolar AS menjadi mata uang terlemah di dunia pada 2011.Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) bersama bank sentral Jepang dan Eropa diperkirakan mempertahankan suku bunga di level terendah pada 2011 guna mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/ Bappenas Prasetijono Widjojo mengatakan justru yang perlu diwaspadai Indonesia saat ini adalah laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2010.

Sumber : BISNIS.COM

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengakui Indonesia kesulitan untuk lepas dari jeratan utang luar negeri karena utang luar negeri merupakan komponen yang masuk dalam APBN.

Sumber : SEPUTAR INDONESIA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s