rupiah zigzag imut seh … 231110

Rupiah kembali menguat dalam 3 hari terakhir hingga ke level terkuat dalam 2 pekan dipicu kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia di tengah pergerakan indeks saham regional bervariasi dengan kecenderungan negatif

Sumber : BISNIS.COM
Rupiah Bakal Tertekan di Kisaran Rp8.930-Rp8.940
Selasa, 23 November 2010 – 08:16 wib
Ade Hapsari Lestarini – Okezone

JAKARTA – Senada dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pergerakan rupiah pada hari ini diprediksi masih akan menguat walaupun akan agak sedikit tertekan.

Ini disebabkan penurunan harga minyak mentah yang diperkirakan bisa sedikit mempengaruhi kemungkinan pelemahan pasar Asia termasuk pergerakan rupiah.

“Kami perkirakan rupiah agak sedikit tertekan dan bergerak di kisaran Rp8.930-Rp8.940 per USD,” ungkap analis dari Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih dalam buletinnya, di Jakarta, Selasa (23/11/2010).

Seperti diketahui, pada awal pekan kemarin pergerakan rupiah terpantau menguat bila dibandingkan dengan penutupan perdagangan rupiah Jumat kemarin. Adapun, salah satu hal yang membuat rupiah menjadi menguat karena Irlandia akhirnya dikucuri bailout, walaupun kepastian angkanya belum bisa dipastikan.

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), Senin 22 November, pada penutupan perdagangan sore, rupiah kembali menguat ke angka Rp8.923 per USD. Setelah pada pekan lalu, ditutup di posisi Rp8.933 per USD.(ade)

Rupiah Bakal Dekati Level Rp9.000/USD
Senin, 22 November 2010 – 07:53 wib

Widi Agustian – Okezone

JAKARTA – Sentimen positif masih bisa berlanjut menyusul semakin intensnya pembiacaraan dana talangan untuk Irlandia. Sentimen positif ini akan membantu pasar Asia melanjutkan penguatan termasuk rupiah.

“Kami perkirakan rupiah bisa menguat dan berada dalam kisaran Rp8.920-Rp8.930 per USD,” jelas analis Samuel Sekuritas Indonesia Lana Soelistianingsih dalam risetnya di Jakarta, Senin (22/11/2010).

Sebelumnya, nilai tukar rupiah melanjutkan penguatan, dengan ditutup di Rp8.933 per USD (kurs tengah Bloomberg) pada penutupan perdagangan Jumat lalu, kendati tidak semua mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sementara itu harga minyak mentah WTI ditutup sedikit turun ke USD81,51 per barel.

Sementara berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), Jumat (19/11/2010), pada penutupan sore ini rupiah kembali menguat ke angka Rp8.937 per USD, setelah sebelumnya dibuka pada level Rp8.959 per USD.(wdi)
Minggu, 21 November 2010 | 19:24 oleh Bambang Rakhmanto kontan
DANA ASING
Dana asing di SUN hengkang itu dinamika pasar yang biasa

JAKARTA. Dalam sepekan, dana asing yang ada di Surat Utang Negara (SUN) pergi sebanyak Rp 2,7 triliun. Hal ini sempat dikhawatirkan bakal menyebabkan pembalikan modal asing secara tiba-tiba (sudden reversal). Namun, Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat dengan tegas mengatakan hal itu bukan sudden reversal tetapi dinamika pasar biasa.

“Tidak ada maslah fundametal, profit taking karena harga SUN naik tajam dalam waktu relatif singkat,” terang Rahmat di Jakarta, akhir pekan lalu. Selain itu, imbuhnya, juga ada momentum yang dijadikan alasan yaitu hasil G20 yang tidak sesuai ekspektasi pasar dalam mencegah currency war.

Pemerintah terus mengupayakan agar kepercayaan investor tetap terjaga dengan cara tidak mengeluarkan kebijakan yang berpotensi menimbulkan sentimen negatif, melakukan komunikasi dengan pasar secara intensif, stabilisasi pasar secara tepat dan terukur.

“Yang jelas, sudden reversal terjadi kalau investor asing jual bond dan saham besar-besaran dan seketika,” katanya. Menurutnya, dalam situasi dimana likuiditas sangat tinggi di Amerika Serikat karena quantitative easing oleh Bank Sentral AS, maka uang hasil penjualan itu mau akan ditaruh dimana di Indonesia.

Bahkan, dana asing itu bisa berpindah ke mana saja, seperti ke valas, atau membeli surat berharga lainnya salah satu contohnya Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Segenderang seperjogetan dengan rahmat, Pengamat Ekonomi Eric Alexander Sugandi menegaskan, hengkangnya dana asing itu bukan sesuatu yang perlu di hawatirkan. Pasalnya, penarikan ini tidak akan memicu penarikan secarar masif atau besar-besaran.

Eric mencontohkan, penarikan besar-besaran pernah terjadi pada tahun 2008, tetapi kondisi itu lain tidak seperti sekarang. “Dulu terjadi penarikan besar-besaran karena ada ekspektasi ekonomi jadi membuat para investor dananya secara besar-besaran,” terang Eric.

Selain itu, imbuh Eric, penarikan yang dilakukan dalam sepekan ini juga dipicu melimpahnya dolar AS di pasar global membuat para investor mencari pasar yang nyaman untuk berinvestasi. Bisa saja, dana tersebut beralih ke pasar saham maupun bond. Dus, pemerintah seharusnya bisa melakukan seperti yang telah dilakukan BI yaitu dengan cara menerbitkan SBI dengan durasi 3 sampai 9 bulan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s