beban bunga perbankan, beban industri, juga … 151110

Senin, 15/11/2010 08:42:42 WIB
Bisnis today: Bunga kredit terancam naik
Oleh: Hendri T. Asworo
JAKARTA: Suku bunga kredit terancam mengalami peningkatan sejalan dengan tren kenaikan dana mahal, yakni simpanan deposito, yang mendominasi pertumbuhan likuiditas perbankan dalam 10 bulan terakhir.

Berdasarkan data Bank Indonesia, deposito perbankan naik 16,27% pada pekan I November 2010 menjadi Rp1.011,45 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year-on- year), yaitu 868,96 triliun.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa pertumbuhan dana mahal mencapai rekor baru dalam 10 bulan terakhir. Pertumbuhan deposito mencapai 12,27% pada pekan I November 2010 apabila dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun lalu, yaitu Rp900,87 triliun (year-to date).

Adapun, dana pihak ketiga dari jenis tabungan tumbuh 9,19% per November 2010 menjadi Rp658,11 triliun jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu.

Pertumbuhan tabungan per November 2010 itu terlihat melambat apabila dibandingkan dengan pertumbuhan year-on-year yang naik sebesar 22,64%.

Kondisi serupa dialami oleh simpanan giro yang secara year to date naik 4,64% dari Rp466,84 triliun menjadi Rp488,52 triliun, sedangkan secara year-on-year tumbuh 11,99%.

Lonjakan kenaikan simpanan deposito dalam 10 bulan terakhir mendorong pangsa pasar dana mahal itu terhadap pertumbuhan dana pihak ketiga perbankan menjadi 45,05%. Dana masyarakat sendiri secara year-on-year naik 17,17% menjadi Rp2.158,1 triliun.

Ekonom Center Indonesia for Development Studies Umar Juoro mengatakan saat ini masih banyak bank yang mengandalkan penghimpunan DPK dari deposito.

Dia menilai konsekuensi dari langkah tersebut mengakibatkan bank mengalami kesulitan dalam menekan suku bunga kredit. “Meski ada aturan dari BI, bank tetap menawarkan beragam hadiah sampai dengan cash back untuk menarik dana masyarakat dalam bentuk deposito. Padahal, biaya dana deposito jauh lebih tinggi. Konsekuensinya, bank akan kesulitan menekan suku bunga,” katanya, kemarin.

Senada dengan Umar, ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk Rosady T. A. Montol mengatakan dominasi deposito pada DPK itu disebabkan oleh peningkatan minat nasabah terhadap produk tersebut.

“Nasabah memiliki minat yang tinggi terhadap deposito, karena bunga yang dipatok relatif tinggi,” kata Rosady.

Rosady memaparkan apabila perolehan deposito oleh bank makin tinggi, hal itu dapat memicu kenaikan biaya dana (cost of fund). Semakin besar biaya dana, biaya dana keseluruhan (blended cost of fund) perbankan juga makin tinggi. “Tingginya blended cost of fund akan menaikkan lending rate setelah di-tambah margin pendapatan dan overhead cost,” kata Rosady.

Terkait dengan dominasi deposito pada DPK, Wadirut PT Bank Jasa Jakarta Lisawati menilai hal tersebut bukan semata-mata keinginan industri perbankan.

“Selama dana belum dipakai, nasabah pasti mencari portofolio yang memiliki bunga lebih tinggi. Sementara itu, bank menilai meski bunga tinggi, tetapi jangka waktu deposito lebih pasti dan risiko likuiditas lebih kecil,” kata Lisawati, kemarin.

Pada kesempatan terpisah, Dirut PT Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja mengatakan struktur pendanaan perseroan tidak didominasi oleh pertumbuhan dana mahal atau deposito, seperti yang terjadi pada tren industri perbankan nasional.

Dia memaparkan peningkatan porsi deposito tersebut disebabkan oleh kenaikan permintaan nasabah yang tidak menempatkan pada simpanan berjangka.

“Deposito melonjak, tetapi kami tetap menggiatkan dana murah. Deposito masih mendominasi industri perbankan saat ini. Nasabah mungkin lebih banyak menempatkan dana pada deposito menjelang akhir tahun,” kata Parwati.

Dia memaparkan perbankan perlu didorong untuk lebih berkompetisi mencegah bunga mahal. “Kompetisi yang sangat ketat akan lebih mencegah bunga naik cepat,” ujar Parwati.

Patokan bunga

Wadirut Bank Panin Roosniati Salihin menuturkan suku bunga bank papan atas saat ini dipatok oleh kesepakatan bersama bunga deposito, yaitu tidak boleh lebih dari 7%. “Jadi, maraknya per-saingan penghimpunan dana mahal tak memicu kenaikan suku bunga.”

Dana giro dan tabungan merupakan komponen dana murah dalam industri perbankan, karena bunga yang diberikan kepada nasabah berkisar 2%-5% per tahun, sedangkan imbal hasil deposito sekitar 5%-8% per tahun.

Adapun, pertumbuhan dana PT Bank Central Asia Tbk (BCA) didominasi oleh dana murah, sehingga beban biaya dana bisa ditekan.

Berdasarkan laporan keuangan BCA per 30 September 2010, dana pihak ketiga BCA tumbuh sebesar 12,1% menjadi Rp262,8 triliun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dana giro mencatatkan pertumbuhan sebesar 16,3% menjadi Rp60,4 triliun, sedangkan tabungan tumbuh 13,5% menjadi Rp136,6 triliun dan deposito hanya sebesar 6% menjadi Rp65,8 triliun.

Selain BCA, Bank Panin juga memiliki struktur dana pihak ketiga yang didominasi oleh dana murah, yaitu giro dan tabungan. Porsi dana murah itu mencapai 52% dari total dana pihak ketiga yang mencapai Rp69,32 triliun per 30 September 2010. (02/07/Sylviana Pravita R.K.N.) (hendri.asworo@bisnis.co.id)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s