uang pana$, bahaya yang NIKMAT … 081110

Hot Money, Antara Berkah dan Musibah
Headline
IST
Oleh: Jagad Ananda
Ekonomi – Senin, 1 November 2010 | 09:51 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Hari-hari ini, hingga akhir pekan, pasar akan diramaikan dengan pergunjingan seputar hot money. Banyak manfaatnya, tapi tak sedikit bahayanya.

Itu sebabnya, President Asian Development Bank (ADB) Haruhiko Kuroda mengingatkan agar pemerintah negara berkembang bersikap ekstra hati-hati menghadapinya.

Menurut Haruhiko Kuroda di Hanoi, Minggu (31/10), kalau uang panas yang kini tengah mengalir deras dari negara-negara maju itu tidak dikelola dengan benar, akan menimbulkan kesulitan dalam mengelola makro ekonomi. Terutama jika terjadi arus balik kelak di kemudian hari.

Sinyal bahaya yang diungkapkan Kuroda, sebenarnya, sudah diwaspadai oleh para pelaku dan pengelola negeri ini sejak dini. Misalnya, dengan cara mendorong dana-dana tersebut mengalir ke investasi jangka panjang. Otoritas moneter pun, telah menerapkan kebijakan jangka waktu untuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI) selama sebulan.

Bahkan, belakangan ini tersiar kabar, pemerintah dan Bank Indonesia bakal memperpanjang usia SBI (menjadi tiga bulan), sekaligus menerapkan pajak atas dana asing yang masuk. Benarkah?

“Kami belum membuat kajian sampai kesana. Entah kalau besok lusa,” kata seorang petinggi BI. Kendati demikian, sang pejabat tak menampik adanya bahaya di balik mengalirnya dana panas yang tetap deras.

Hingga akhitr Oktober lalu saja, dana asing yang masuk sudah mencapai Rp264,93 triliun. Dari jumlah itu, sebagian besar (Rp191,12 triliun) ngendon di Surat Utang Negara alias SUN, Rp70,87 triliun di SBI dan sekitar Rp2 triliun di saham.

Angka tersebut diprediksi bakal melonjak dengan segera. Tepatnya kalau The Fed jadi mengucurkan stimulus dengan cara memborong obligasi Pemerintah AS senilai US$500 miliar, yang akan diputuskan 4 November ini.

Diduga kuat, dana besar ini tidak akan masuk ke roda perekonomian AS, melainkan bakal lebih banyak mengalir ke negara-negara berkembang yang menawarkan tingkat bunga tinggi, termasuk Indonesia.

Dampak membanjirnya dana besar tersebut, untuk sesaat, dipatikan bakal membuat nilai tukar rupiah perkasa. Tapi, musibah yang tak kalah besarnya akan datang jika perekonomian di AS dan Eropa membaik. Sebab, tanpa perlu dikomando, hot money akan ramai-ramai pulang kandang. [mdr]

M Doddy Arifianto
RI Tidak Bisa Elak Tren Pelemahan Dolar AS
Headline
IST
Oleh:
Ekonomi – Selasa, 26 Oktober 2010 | 17:53 WIB
INILAH.COM, Jakarta – Penguatan rupiah ke kisaran 8.900, belum dinilai negatif. Apalagi RI tidak bisa mengelak dari tren pelemahan dolar AS.
M Doddy Arifianto, ekonom senior Bank Mandiri mengakui, penguatan rupiah ke 8.900-an sempat dikhawatirkan akan mengganggu kinerja ekspor. Namun, hal tersebut ternyata hanya bersifat musiman. Kinerja ekspor Agustus lalu pun kembali mengalami surplus.
Dengan penguatan rupiah ke posisi tersebut, saya melihat netral. Sebab, RI tidak mungkin mengelak dari tren pelemahan dolar AS terhadap berbagai mata uang di dunia, katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (26/10).

Badan Pusat Satatistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan RI, per Agustus 2010 surplus US$1,49 miliar. Angka ini melesat tajam dibandingkan Juli yang mengalami defisit US$128,7 juta. Berikut wawancara lengkapnya
Dengan penguatan rupiah yang berlangsung lama di 8.900-an, apa dampaknya terhadap ekspor?
Penguatan itu sebelumnya dikhawatirkan mengganggu kinerja ekspor. Tapi data terakhir perdagangan RI kembali surplus. Karena itu, sistem ekspor-impor RI cukup hedge (terlindungi) sehingga tidak terombang-ambing nilai tukar.

Apa penyebabnya?
Sebagian barang yang diekspor, juga diimpor sebagai mata rantai produksi. Jadi, jika rupiah naik, impor pun naik. Sebaliknya, jika rupiah melemah, ekspor pun naik. Saat ini barang-barang impor RI, porsinya lebih banyak untuk alat produksi, seperti permesinan. Sedangkan ekspor, porsinya lebih banyak di sektor mineral (mining) yang tak terbarukan. Tapi ke depannya, electrical machinery and equipment mulai meningkat.
Ekspor barang-barang tersebut mencapai 36%, dan impor 43%.

Tapi, bukankah penguatan rupiah sudah melampaui target APBN 2010 di 9.200?
Rupiah memang sudah lama menguat dan berada di bawah 9.000 dan melampaui target APBN 2010 di 9.200. Saat ini, rupiah menguat di 8.920-8.940 per dolar AS. Sementara, sebagian negara justru cenderung mendevaluasi mata uangnya. Tidak secara langsung, tapi mereka membuat aturan sehingga arus capital inflow bisa dikendalikan.
Penguatan rupiah masih netral. Sebab, RI tidak mungkin mengelak dari tren pelemahan dolar AS. Terhadap euro, dolar AS sudah melemah ke US$1,4 per euro dan di level 80 yen Jepang. Arus besarnya memang pelemahan dolar AS. Karena itu, wajar penguatan rupiah dari 9.200-9.100 di awal 2010 ke level 8.900 saat ini. Sebab, itu hanya penguatan 2-3%. Kecuali jika rupiah menguat seperti mata uang Brazil yang naik 5%.
Hingga level berapa batas toleransi penguatan rupiah?
Pasar sebenarnya mencari sendiri level wajar untuk rupiah, sehingga tidak bisa dipatok hingga level mana penguatan rupiah ditolelir. Namun, berdasarkan fundamentalnya, rupiah sudah overvalue. Sebab, secara fundamental, seharusnya rupiah berada di 9.200-an. Terutama karena inflasi RI lebih tinggi daripada AS. Tapi, itu hanya teori. Di sisi lain, nilai fundamental rupiah merupakan puzzle terumit dalam ekonomi. Apalagi RI merupakan pasar paling diminati. Instrumen untuk mengontrol devisa pun masih minim. Negara lain, seperti Brazil sudah mengenakan pajak untuk capital inflow.
Kalau begitu, hingga level berapa potensi penguatan rupiah?
Rupiah akan berkutat di 8.900-an hingga kuartal pertama 2011, tidak lebih jauh karena tingkat pertumbuhan uang domestik juga tinggi. Ini akibat setiap intervensi pasar BI, tidak disterilisasi secara penuh. Akibatnya, jumlah uang beredar bertambah dan menghambat penguatan rupiah.
Untuk mengintervensi agar rupiah tidak terlalu kuat, BI membeli dolar AS sehingga likuiditas rupiah melimpah. Itu mestinya, disterilisasi dengan menjual SBI lebih banyak. Kenyataannya tidak. Akibatnya, jumlah uang rupiah beredar sangat tinggi.
Hal ini bisa dilihat dari based moneyyang terdiri dari uang kartal, plus giro bank umum yang disimpan di BI. Angkanya, tumbuh 27%. Tapi, ini masih wajar sebab pertumbuhan uang inti pada 2007 mencapai 28% dari level 24% pada 2006 yang memicu ledakan inflasi.
Meski 27% merupakan level normal, namun tidak terkontraksi. Ini jelas menghambat penguatan rupiah. Karena itu, tahun ini rupiah menguat di 8.927-an dan pada 2011 berpeluang melemah kembali ke 9.000-an.
Bagaimana peluang investment grade RI di 2011 yang bisa memicu derasnya arus capital inflow dan memperkuat rupiah?
Memang rating RI akan kembali naik di 2011, bahkan mencapai investment grade di akhir tahun depan. Namun, hal itu, sudah dibobot oleh pasar, sehingga tidak bisa memperkuat rupiah lebih jauh.
Saya perkirakan, rupiah akan kembali melemah ke level 9.100-9.200 setelah AS dan Eropa, memperlihatkan tanda-tanda akselerasi pertumbuhan ekonomi. Sebab, suku bunganya kembali naik. Bagaimanapun AS dan Eropa merupakan negara safe haven. Untuk saat ini, saya setuju dengan BI, cadangan devisa boleh naik-turun, tapi tidak untuk
nilai tukar rupiah. [jin/ast]

Wow..Orang Indonesia Berutang Rp6,3 Juta/Orang
Minggu, 7 November 2010 – 10:38 wib

Ade Hapsari Lestarini – Okezone

JAKARTA – Utang Pemerintah Indonesia, baik itu Surat Berharga Negara (SBN) dan pinjaman luar negeri per september 2010, sebesar Rp1.653 triliun atau naik Rp191 triliun sejak 2008 masih dianggap managable.

“Meskipun nominal utang negara naik, tapi kami yakin itu masih managable,” ujar Kepala Seksi Pelaksanaan Transaksi Obligasi Negara Direktorat Utang Negara Kementerian Keuangan Agung Galih S, dalam keterangan tertulis yang diterima okezone di Jakarta, Minggu (7/11/2010).

Menurutnya, dibandingkan dengan utang per kapita China (USD881 per orang) dan India (USD758 per orang) yang memiliki penduduk lebih banyak, utang per kapita Indonesia lebih rendah yakni sebesar USD720 per orang atau setara dengan Rp6.388.200.

Agung juga menyebutkan, bahwa dalam hal rasio utang terhadap PDB Indonesia lebih baik dibandingkan dengan “non-investment grade peer group” (Argentina, Filipina dan Turki), bahkan dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS), Inggris, Jepang, dan Italia.

Menurut Agung, awal digelontorkannya SUN adalah untuk mengatasi krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997/1998. Bank Indonesia (BI) pada saat itu tidak bisa menyuntikkan dana secara langsung ke bank rekap, sehingga pemerintah menerbitkan Obligasi Negara (ON) kepada BI.

BI menyerahkan uang sebesar nilai ON kepada pemerintah. Uang tersebut digunakan oleh pemerintah untuk mengakuisisi dan membeli aset-aset bermasalah di bank rekap.

Kemudian aset tersebut selanjutnya dikelola oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Selanjutnya uang yang diperoleh bank rekap digunakan untuk membeli ON yang dimiliki BI sehingga permodalan bank rekap menjadi sehat.

“Waktu itu modal bank tergerus habis dan jika dibiarkan dampaknya terlalu besar. Oleh karenanya, pemerintah menggelontorkan dana sebesar Rp600 triliun, seratus kali lipat dari dana inject Bank Century,” tandasnya.(ade)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s