GDP indo 3Q 2010 : 081110

“Seharusnya Ekonomi RI Tumbuh Lebih Kencang!”
Minggu, 7 November 2010 – 13:51 wib

Safrezi Fitra – Okezone

JAKARTA – Rendahnya penyerapan anggaran menjadi salah satu penyebab menurunnya pertumbuhan ekonomi kuartal III-2010. Karena itu program penyerapan anggaran pemerintah harus dipercepat.

“Kalau memang program-programnya (penyerapan anggaran) jalan seperti yang dicanangkan, seharusnya triwulan ketiga (pertumbuhan ekonomi) tumbuhnya kencang sekali,” ujar Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa, di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III biasanya menjadi yang tertinggi sepanjang tahun. Namun, untuk kuartal III tahun ini pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan dari 6,2 persen pada kuartal II menjadi hanya 5,8 persen.

Dikatakan bahwa hal ini disebabkan salah satunya oleh penyerapan anggaran pemerintah yang masih rendah. Konsumsi anggaran belanja pemerintah dikatakan masih rendah dengan terlihat dari angka pertumbuhan tahunan yang hanya mencapai 4,6 persen.

“Konsumsi pemerintah kalau Anda bandingkan kuartal III tahun ini dengan kuartal III tahun lalu hanya tumbuh tiga persen, triwulan I sampai dengan triwulan III pertumbuhan tahunannya mengalami kontraksi 4,6 persen, ini menunjukkan masih ada yang menghambat daya serap belanja pemerintah. Jadi kurang terlalu baik,” jelasnya.

Dia menambahkan bahwa indikator pertumbuhan ekonomi yang lain mengalami peningkatan, namun karena penyerapan anggaran rendah, maka angka pertumbuhan ekonomi pun berkurang.

Sejak Januari hingga September dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya konsumsi rumah tangga tumbuh 4,7 persen, investasi tumbuh 8,2 persen, ekspor 15 persen, dan impor tumbuh sebesar 17 persen.

Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2010 sebesar 5,8 persen, sangat jauh dari target yang diharapkan pemerintah. Sebelumnya, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2010 bisa mencapai 6,5 persen, lebih tinggi dari realisasi pada kuartal sebelumnya, seiring dengan meningkatnya investasi dan ekspor. “Jadi kalau mau tumbuh lebih cepat lagi, ini harus berubah,” tegasnya.(ade)

Published November 6, 2010 ST

Indonesia’s Q3 growth comes in below forecast at 5.82%

Data makes it even more likely that central bank will keep policy rate on hold at 6.5% well into 2011; markets show little reaction

(Jakarta)

INDONESIA’s economy grew a lower-than-expected 5.82 per cent in the third quarter from a year earlier, data showed yesterday, surprising economists who had forecast growth of around 6.2 per cent.

‘That is really low,’ said Helmi Arman, economist at Bank Danamon in Jakarta. ‘The risk to achieving the 6.1 per cent figure for full-year growth is definitely to the downside now.’

Quarter-on-quarter GDP growth was 3.45 per cent, Slamet Sutomo, deputy at the country’s statistics bureau told a news conference.

Analysts said the data made it even more likely that the central bank will keep its policy rate on hold at 6.5 per cent well into 2011.

At its monthly policy meeting on Thursday, Bank Indonesia left rates unchanged and said the main concern was surging inflows of foreign capital.

With recent inflation data benign and on course to be within the central bank’s end-year target range, and the central bank anxious to avoid attracting too much foreign capital by widening interest rate differentials unduly, most analysts expect no rate rise until the second quarter of 2011 at the earliest.

Of the 13 economists polled by Reuters, none had forecast third-quarter GDP growth of below 6.1 per cent. The central bank had forecast growth of 6.3 per cent in the quarter.

‘Q3 GDP came in softer than expectations – not surprising given that H2 headlines should moderate on higher base. Growth still held up on the quarter,’ said Joanna Tan, economist at Forecast in Singapore.

‘The key downside risks to the economy will stem from the slowdown in the global recovery and the influx of speculative capital where a turn in risk appetites could spur an exodus of funds from the higher beta Indonesian assets.’

Despite the surprisingly low figure, Indonesian markets showed little reaction to the data.

The stock market extended modest gains after the announcement and was up 0.6 per cent at 0400 GMT, near a record high. The rupiah was hovering around 8,897, the same level as before the data was released. — Reuters
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,8 Persen
Jumat, 5 November 2010 | 16:09 WIB
shutterstock

JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2010 mencapai 5,8 persen. Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi tertinggi pada sektor pengangkutan dan komunikasi yang tumbuh sebesar 13 persen.

Hal ini disampaikan Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Slamet Sutomo saat konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Jumat (5/11/2010).

Slamet mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia year on year pada kuartal III 2010 adalah 5,8 persen dibanding pertumbuhan ekonomi pada periode yang sama tahun lalu. Adapun pertumbuhan ekonomi per kuartal ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 3,5 persen.

“Pada triwulan III ini, produk domestik bruto (PDB) kita, harga yang berlaku seluruhnya berjumlah Rp 1.654,5 triliun. Kemudian, kalau kita hitung dari kumulatif triwulan, PDB Indonesia mencapai Rp 3.727,6 triliun,” ujarnya.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai pada kuartal III tahun ini, kata dia, antara 5,8 dan 5,9 persen. Dia mengatakan, hal ini disebabkan adanya kegiatan domestik, yakni puasa Lebaran dan liburan. “Selama Periode Juli-September ada kegiatan domestik puasa, lebaran, dan liburan. Kegiatan ini membantu pengaruh ekonomi domestik dalam negeri,” paparnya.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi juga didorong penyerapan anggaran pemerintah yang semakin membaik. (Andri Malau)

Ekonomi RI Tumbuh karena Beruntung?
Minggu, 24 Oktober 2010 | 09:58 WIB
LIN

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengusaha muda Sandiaga Uno mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus membaik lebih disebabkan faktor keberuntungan akibat krisis ekonomi yang melanda Amerika dan Eropa.

“Banyak luck-nya memang karena jelas fenomena ekonomi Indonesia seperti ini diakibatkan oleh keterpurukan ekonomi Amerika dan Eropa. Sekarang ini kita dapat bonus-lah, hoki dari bagian negara lain yang sedang tidak baik,” kata Sandiaga saat ditemui Tribunnews.com di sela-sela acara Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Summit 2010 di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (23/10/2010).

Dia mengatakan, faktor ekonomi Amerika dan Eropa yang masih terguncang membuat pandangan dunia sekarang beralih ke Asia, salah satunya Indonesia. “Dan di Asia itu ada tiga, yaitu China, India, dan sekarang mulai Indonesia. Jadi, dikenal Cindonesia,” paparnya.

Sandi juga mengatakan, terdapat beberapa kesuksesan ekonomi Indonesia yang perlu dilihat karena hal itu cukup memberikan stimulus positif. Misalnya, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang sekarang terbukti menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

“Dengan tumbuhnya UMKM ini, pasar domestik kita tumbuh dan customer demand kita terus bertumbuh bagi pertumbuhan ekonomi kita karena selama ini orang bilang sumber daya alam (SDA)-lah yang menopang perekonomian Indonesia. Tapi, 18 bulan terakhir ini kita lihat justru customer market atau konsumsi domestik yang mendorong pertumbuhan kita,” bebernya.

Dia juga menyampaikan, sekarang Indonesia harus merevitalisasi kemampuan untuk memanfaatkan gelombang yang sangat positif ini. (Andri Malau)

BPS: Jawa Sumbang Pertumbuhan Tertinggi
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
Ekonomi – Jumat, 5 November 2010 | 16:54 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Pulau Jawa masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi (Produk Domestik Bruto/PDB) dibanding pulau lainnya di Indonesia untuk kuartal III-2010.

Demikian disampaikan Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Slamet Sutomo. “Kontribusi pulau terhadap PDB Indonesia di kuartal III-2010, Pulau Jawa masih memberikan kontribusi terbesar dengan menyumbang 57,62 persen terhadap PDB,” ujar Slamet di kantornya, Jumat (5/11)

Ia melanjutkan di urutan kedua ditempati Pulau Sumatera dengan tumbuh 23,73%, Pulau Kalimantan tumbuh 9,21%, Pulau Sulawesi tumbuh 4,59%, Pulau Bali dan Nusa Tenggara tumbuh 2,79%, dan terakhir adalah Pulau Maluku dan Papua dengan pertumbuhan 2,06%.

BPS juga mencatat kontribusi pertanian dan perkebunan terhadap konsumsi dalam negeri berdasarkan propinsi dimana perkebunan kelapa sawit masih disumbang oleh tiga propinsi yakni Sumatera Barat, Riau, dan
Sumatera Selatan. Adapun untuk kopi masih disumbang oleh Sumatera Selatan dan tebu oleh propinsi Jawa Timur.

“Sedangkan untuk propinsi Jawa Timur masih menyumbang pertanian dan perkebunan terhadap konsumsi dalam negeri dengan menyumbang buah-buahan dan sayur-mayuran. Untuk padi dan jagung masih disumbang oleh propinsi Jawa Tengah,” tuturnya.

Untuk produk non pertanian dan perkebunan seperti batubara, lanjutnya, masih disumbang oleh propinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, Emas oleh Papua dan Tembaga oleh Nusa Tenggara Barat dan Papua. [cms]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s