ya sudah lah: kehati-hatian @the fed … 301010ia

Jelang Sidang The Fed Pasar Bersikap Hati-Hati
Jum’at, 29 Oktober 2010 | 17:38 WIB

TEMPO/Dinul Mubarok

TEMPO Interaktif, Jakarta -Sikap hati – hati dari para pelaku pasar menjelang pertemuan Dewan Gubernur bank sentral AS (The Fed) minggu depan membuat rupiah melemah tipis.

Langkah kongkrit dari The Fed melakukan stmulus perekonomian dengan pelonggaran kwantitatifnya akan dijadikan penunjuk kemana arah bagi para pelaku pasar akan berinvestasi.

Pada transaksi dipasar uang Jumat (29/10) nilai tukar rupiah ditutup pada level 8.938, atau melemah 1 poin dari posisi kemarin di 8.937 per dolar AS.

Kepala Treasury salah satu bank di Jakarta, Lindawati Susanto kepada Tempo sore ini menjelaskan secara fundamental ekonomi dan politik sebenarnya sangat mendukung penguatan mata uang lokal. Namun, Bank Indonesia (BI) yang tidak suka menguat terlalu cepat membuat apresiasi rupiah kembali tertahan. “Penguatan yang terlalu cepat bisa mengganggu kinerja ekspor menjadi alasan bagi BI untuk meredam penguatan rupiah,” kata Linda.

Untuk pekan depan Linda memprediksikan rupiah masih akan ditransaksikan dalam kisaran antara 8.900 hingga 8.950 per dolar AS. Hasil sidang The Fed dan pemilihan umum AS masih akan menjadi perhatian para pelaku pasar pekan depan.

Ekonomi Asia yang lebih cepat pulih membuat risk appetite (keberanian investor mengambil resiko) membuat aliran dana asing akan terus masuk ke kawasan regional termasuk Indonesia. “Akan tetapi, BI yang tidak mau rupiah menguat terlalu jauh masih akan menjadi kendala apresiasi mata uang lokal,” imbuhnya.

Mata uang yen terhadap dolar AS sore ini kembali menguat 0,28 persen, dolar Taiwan menguat 0,24 persen, peso Philipina menguat 0,12 persen, serta yuan Cina juga menguat 0,24 persen.

Sedangkan dolar Singapura melemah 0,04 persen, won Korea Selatan turun 0,13 persen, ringgit Malaysia turun 0,06 persen, serta bath Thailand juga merosot 0,03 persen terhadap dolar AS.

VIVA B. KUSNANDAR

Wah, 53% Konsumen Nyatakan Indonesia Masih Resesi!
Kamis, 28 Oktober 2010 – 15:18 wib

Wilda Asmarini – Okezone

JAKARTA – Sebagian besar masyarakat Indonesia ternyata masih menganggap kondisi perekonomian dalam negeri belum sepenuhnya pulih dari dampak krisis ekonomi. Padahal selama ini Indonesia digadang-gadangkan sebagai negara yang aman dari kondisi krisis ekonomi.

Berdasarkan survey the Nielsen Company indonesia, sebesar 53 persen konsumen di Indonesia menyatakan Indonesia masih berada dalam resesi ekonomi dan hanya 26 persen yang percaya bahwa Indonesia akan keluar dari resesi tersebut dalam 12 bulan mendatang.

Demikian hasil riset dari lembaga riset the Nielsen Company Indonesia yang diungkapkan Managing Director the Nielsen Company Indonesia Catherine Eddy dalam keterangan tertulisnya yang diterima wartawan pada di Jakarta, Kamis (28/10/2010).

“Sangat menarik bahwa sedikit di atas 50 persen konsumen yang disurvey mengatakan bahwa kita masih dalam resesi dan merasa hal ini akan berlanjut hingga tahun depan,” ungkap Eddy.

Kendati demikian, lanjutnya, dengan tingkat kepercayaan konsumen yang masih stabil hingga September 2010 ini menunjukkan bahwa optimisme masyarakat tetap besar, tapi memang masih ada kehati-hatian pada diri konsumen.

“Namun, konsumen masih terlihat positif dan level kepercayaan kita masih stabil tahun ini dan tetap merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Ini tentunya menunjukkan optimisme yang besar, namun tetap ada rasa hati-hati pada konsumen Indonesia,” bebernya.

Kondisi ekonomi menurutnya menjadi kekhawatiran utama bagi konsumen di Indonesia. Selanjutnya, konsumen mengkhawatirkan kondisi pekerjaan, pemanasan global, dan kesejahteraan orang tua.

“Menariknya, sementara pemanasan global di Asia Pasifik berada pada peringkat ke-9, namun bagi konsumen di Indonesia berada pada urutan ke-3. Ini menunjukkan betapa pentingnya hal ini bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Begitu juga dengan hasil survey di Amerika. Disebutkannya, sebesar 27 persen atau lebih dari seperempat konsumen di Amerika tetap mengkhawatirkan kondisi perekonomian negara mereka pada tahun mendatang.

“Namun, di antara konsumen di Amerika Latin, konsumen menempatkan keseimbangan antara pekerjaan, keamanan pekerjaan, utang, kejahatan, dan pendidikan lebih merupakan kekhawatiran utama dibandingkan ekonomi,” pungkasnya.

Sementara di Eropa, naiknya harga kegunaan (utility) menggantikan ekonomi sebagai kekhawatiran utama pada enam bulan ke depan. Dan di Asia Pasifik, satu dari lima konsumen disebutkan sangat khawatir dengan naiknya harga makanan.(adn)(rhs)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s