china berimba$ ke bbri … 251010

Pekan ini, indeks saham lokal diprediksi akan bergerak mixed. Investor jangka pendek bisa memilih saham properti atau perbankan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) benar-benar bikin geregetan. Betapa tidak, sejak awal bulan terus melonjak-lonjak, tapi tak pernah ditutup di atas level psikologis baru. Padahal, jika dihitung sejak tiga pekan perdagangan terakhir, sudah tujuh kali IHSG menembus ke atas level 3.600.

Pada penutupan pasar di hari Kamis dan Jumat pekan lalu misalnya, indeks sempat bertengger di kisaran 3.610 dan 3.605. Tapi sayangnya, tak pernah bertahan lama. Di penghujung pekan, indeks akhirnya ditutup di angka 3.597,75 atau hanya menguat 0,72 poin dibanding penutupan sepekan sebelumnya.

Lantas apa yang akan terjadi di pekan ini? Sejumlah pelaku pasar memprediksi, perdagangan akan berlangsung mixed. Pasalnya, ada sentimen positif dan negatif dari dalam dan luar negeri yang akan saling mempengaruhi.

Rencana China yang akan menaikkan tingkat suku bunga tetap menjadi faktor yang menentukan. Begitu pula currency war yang berlangsung di sejumlah negara maju.

Selain itu, rencana Brasil dan Thailand yang akan mengikuti jejak China dengan menaikkan tingkat bunga, juga akan membuat investor wait and see. Ditambah lagi dua negara tersebut tengah berancang-ancang untuk menambah beban pajak bagi investasi asing.

Sementara di dalam negeri yang bertiup justru sebaliknya, angin positif. Terbitnya laporan keuangan triwulan III diyakini akan menjadi pendorong ramainya perdagangan. Begitu pula terbitnya sejumlah saham baru melalui IPO maupun rights issue. “Tapi faktor eksternal tetap ikut menentukan,” kata seorang pengamat pasar saham.

Selain terpengaruh oleh aksi peningkatan suku bunga oleh sejumlah negara, terbitnya data-data ihwal perekonomian AS, yang menyangkut tingkat pengangguran dan konsumsi, bakal menjadi acuan investor.

Dalam kondisi seperti ini, para analis menyarankan investor untuk menunggu sampai indeks mengalami koreksi. “Kita perlu ekstra hati-hati karena sudah banyak saham yang kemahalan,” timpal satu analis dari sebuah sekuritas asing.

Lain halnya dengan pemodal yang ingin bermain jangka pendek. Kata sang analis, saat ini merupakan saat yang tepat untuk mengail gain. Ada sejumlah saham, terutama dari kelas dua, yang mendapatkan rekomendasi.

Dari sektor properti saham-saham seperti PT Ciputra Properti (CTRP), PT Ciputra Development (CTRA), PT Modernland (MDLN) dan PT Lippo Karawaci (LPKR) dalam jangka pendek diperkirakan mampu melahirkan gain 5-7%.

Sedangkan dari jajaran blue chips, yang banyak mendapat rekomendasi adalah saham-saham dari sektor perbankan. Pilihannya jatuh pada PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). [mdr]

Sumber : INILAH.COM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s